Istiqamah setelah Ramadhan

0
64
<pre><pre>Istiqamah setelah Ramadhan

Istiqamah setelah Ramadhan

Oleh: Ustadz Abdullah Taslim, MA

Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat, dan bulan Ramadhan penuh dengan berkah dan kebajikan telah berlalu. Semoga kita tidak berada di antara mereka yang celaka karena mereka tidak mendapatkan pengampunan dari Tuhan Subhanahu Wa Ta & ala selama bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Gabriel ‘Damai sejahtera besertamu dan disetujui oleh Nabi sallallaahu ‘alayhi wa sallam"Celakalah hamba yang menemukan bulan Ramadhan lalu Ramadhan meninggal dalam keadaan dosanya tidak diampuni (oleh Allah Subhanahu Wa Ta & ala) "[1].

Salah satu ulama salaf berkata: "Siapa pun yang tidak diampuni dari dosanya di bulan Ramadhan tidak akan diampuni dari dosanya di bulan-bulan lain"[2].

Karena itu, mintalah dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan Subhanahu Wa Ta & ala agar Dia menerima perbuatan baik kita di bulan penuh berkah ini dan mengabulkan semua doa dan permintaan kita untuk pengampunan kepada-Nya, seperti sebelum kedatangan Ramadhan kita berdoa kepada-Nya bahwa Dia Subhanahu Wa Ta & ala membawa kita bersama dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita dipenuhi dengan iman dan harapan untuk kesenangan-Nya. Imam Mu alla bin al-Fadl mengatakan: "Sebelumnya (salaf) berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta & ala (untuk) enam bulan sehingga Allah akan membawa mereka bersama dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (untuk) enam bulan (berikutnya) sehingga Dia akan menerima (amal saleh) yang mereka (lakukan) "[3].

Lalu sebuah pertanyaan besar muncul dengan sendirinya: Apa yang tersisa dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Apa saja tanda kebaikan yang bisa kita lihat setelah kita keluar dari bulan puasa madrasah?

Apakah tanda hilang dengan berlalunya bulan? Apakah perbuatan baik yang biasa kita lakukan di bulan itu memudar setelah puasa berakhir?

Jawabannya ada dalam cerita berikut:

Imam Bisyr bin al-Harith al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang (hanya) rajin dan benar-benar beribadah di bulan Ramadhan, jadi dia menjawab: "Mereka adalah orang yang sangat jahat, (karena) mereka tidak tahu hak-hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan, (hamba Allah) yang saleh adalah orang yang rajin dan benar-benar memuja dalam setahun penuh ”[4].

Demi Allah, ini adalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta & ala yang benar, yang selalu menjadi hamba-Nya di setiap tempat dan waktu, tidak hanya di waktu dan tempat tertentu.

Imam ash-Shibli pernah ditanya: Mana yang lebih dulu, bulan Rajab atau bulan Setan? Jadi dia menjawab: "Jadilah kamu seorang Rabbani (hamba Allah Subhanahu Wa Ta & ala yang selalu menyembah-Nya di setiap waktu dan tempat), dan tidak menjadi Setan (orang-orang yang hanya menyembah-Nya dalam larangan bulan Shay atau bulan-bulan tertentu lainnya) "[5].

Jadi seperti yang kita butuhkan dan harapkan rahmat Tuhan Subhanahu Wa Ta & ala di bulan Ramadhan, bukankah kita juga masih membutuhkan dan mengharapkan rahmat-Nya di bulan-bulan lainnya? Bukankah kita semua termasuk dalam firman-Nya:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيد}

"Wahai manusia, kalian semua membutuhkan (rahmat) Allah; dan Allah Maha Kaya, Terpuji" (QS Faathir: 15).

Ini adalah arti sebenarnya dari istiqamah dan ini adalah tanda penerimaan perbuatan saleh seorang hamba. Imam Ibn Rajab berkata: "Sesungguhnya, Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberikan taufik kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan baik setelah itu, seperti yang dikatakan oleh salah satu dari mereka (ulama salaf): Hadiah dari perbuatan baik adalah (taufik dari Tuhan Subhanahu Wa Ta & ala untuk melakukan) perbuatan baik sesudahnya. Jadi siapa pun yang melakukan perbuatan baik, maka ia melakukan lebih banyak perbuatan baik setelah itu, itu adalah tanda menerima perbuatan baik pertamanya (oleh Allah Subhanahu Wa Ta & ala), seperti siapapun yang melakukan perbuatan baik, maka dia melakukan perbuatan buruk (setelah itu), maka itu adalah tanda ditolak dan tidak menerima perbuatan baik "[6].

Karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta & ala mempersembahkan puasa enam hari di Syawal, yang kehebatannya adalah membuat puasa Ramadhan dan puasa enam hari sebagai gantinya puasa setahun penuh, seperti yang dikatakan Nabi Subhanahu Wa Ta & ala: "Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, maka ia mengikutinya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawal, maka (ia akan mendapatkan hadiah) seperti puasa setahun penuh"[7].

Selain itu, itu juga untuk tujuan memenuhi keinginan para hamba-Nya yang saleh dan selalu ingin mendekat kepada Allah. Subhanahu Wa Ta & ala dengan puasa dan ibadah lainnya, karena mereka adalah orang yang merasa bahagia dengan melakukan puasa. Rasulullah  berkata: "Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan saat berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah"[8].

Ini adalah bentuk perbuatan baik yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta & ala dan Utusan-Nya sallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam mengatakan: "Amal (ibadah) adalah yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta & ala adalah amal yang paling terus dilakukan, bahkan jika itu sedikit ”[9].

Ummul mu & minin ‘Aisha radhiallahu ‘anhu berkata: "Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam jika melakukan amal (kebaikan) maka dia sallallaahu ‘alayhi wa sallam akan menyelesaikannya "[10].

Ini adalah arti istiqamah setelah bulan Ramadhan, ini adalah tanda penerimaan perbuatan baik kita di bulan yang diberkati, jadi silakan menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk di antara mereka yang beruntung dan menerima perbuatan baik atau sebaliknya.

{فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأبْصَارِ}

"Kalau begitu ambil pelajaran (dari semua ini), wahai orang-orang yang memiliki akal sehat" (Surat al-Hashr: 2).

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين ، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

_______ Albania

Catatan kaki:

1 HR Ahmad (2/254), al-Bukhari dalam "al-Adabul mufrad" (no. 644), Ibn Hibban (no. 907) dan al-Hakim (4/170), dinyatakan asli oleh Ibnu Hibban, al – Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani.
2 Dikutip oleh Imam Ibn Rajab dalam buku "Latha-iful ma'aarif" (hlm. 297).
3 Dikutip oleh Imam Ibn Rajab al-Hambali dalam buku "Latha-iful ma & # 39; aarif" (hlm. 174).
4 Dikutip oleh Imam Ibn Rajab al-Hambali dalam buku "Latha-iful ma & # 39; aarif" (hlm. 313).
5 Ibid.
6 Buku "Latha-iful ma'aarif" (hlm. 311).
7 Muslim HSR (no. 1164).
8 HSR al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151).
9 HSR al-Bukhari (no. 6099) dan Muslim (no. 783).
10 Muslim HSR (no. 746).

Anda dapat membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Unduh sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATURE.

  • AKUN DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. JARINGAN YUASAN YUFID
  • DONASI KONFIRMASI hubungi: 087-738-394-989

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here